Cheng Ho dan Indonesia

Wali Songo ( MUSLIM CHINA)..PEJUANG SABIQUNA AWALUL INDONESIA
oleh Zibril Mikail pada 28 November 2010 jam 10:47

Penyebaran Islam di Jakarta tidak lepas dari peristiwa penaklukan Sunda Kelapa oleh tentara Demak tahun 1527. Siapa yang menyangka bahwa Islam yang menjadi bagian budaya Betawi bermuara dari kerjakeras para Muslim Tionghoa abad ke-13 lalu … berikut sepotong berita tentang Kontribusi Etnis Tionghoan tersebut :

Raden Fatah, Raja pertama Demak, bernama asli Jin Bun. Jin Bun adalah anak Raja Majapahit Prabu Kertabumi dari istri yang berasal dari Cina anak dari saudagar bernama Ban Hong. Setelah dewasa Jin Bun belajar agama kepada Bong Swi Ho alias Raden Rahmat alias Sunan Ampel yang berasal dari Campa (Kamboja) cucu dari Bong Tak Keng, Raja Campa. Pada 1445 Bong Swi Ho mengunjungi bibinya yang juga istri raja Majapahit Prabu Wikrawardana atau Hyang Wisesa (dari istri lain, yakni permaisuri Kusumawardani anak hayam Wuruk, Wikrawardana mempunyai anak bernama Rani Suhita yang menjadi raja sebelum Prabu Kertabumi). Di tanah Jawa, Bong Swi Ho menikah dengan anak dari Gan Eng Cu (alias Aria Teja atau Nambe), mantan Bupati Manila (Filipina) yang telah ditempatkan di Tuban sebagai Ngabei, yang juga ayah dari Gan Si Cang alias Raden Said atau Sunan Kalijaga. Sementara itu, adik Gan Eng Cu yang berarti pula paman dari Gan Si Cang yang bernama Gan Eng Wan (alias Wira), diangkat menjadi Bupati Tuban dengan nama baru Tumenggung Wilatikta. Tumenggung Wilatikta adalah bupati pertama Majapahit yang beragama Islam.

Sedemikian akrab hubungan Majapahit dengan Tiongkok, sehingga dengan leluasa Raja Tiongkok menawarkan bantuan ‘keamanan’ yang amat disambut baik Majapahit. Bantuan keamanan Tiongkok terealisasi dengan penugasan Laksamana Sam Po Bo (Cheng Ho) tahun 1402 yang ternyata memiliki misi khusus penyebaran agama Islam di Nusantara. Dalam penyebaran Agama Islam, Sam Po Bo melibatkan pejabat Majapahit muslim beretnis Tionghoa, yang kebetulan banyak diantaranya yang masih berkerabat (hubungan keluarga) dengan pejabat-pejabat dari Tiongkok. Sehingga dalam menjalankan tugas pemerintahan Majapahit, sekaligus pula menjalankan tugas dakwah Islam yang dikoordinasi oleh Tionghoa yang dalam hal ini adalah Laksamana Sam Po Bo.

Demikianlah uraian potongan laporan Poortman sebagai suatu prae advies kepada Pemerintah Hindia Belanda tahun 1928 yang menerangkan kontribusi etnis Tionghoa pada penyebaran Islam abad ke-13 dan 14 di Nusantara, dimana peran Wali Songo sangat strategis. Bagi orang kebanyakan, informasi yang menyebutkan para Wali Songo adalah keturunan Tionghoa mungkin menjadi pengetahuan baru.

Pada tahun 1964 terpublikasi sebuah buku berjudul Tuanku Rao yang ditulis oleh Ir. Mangaraja Onggang Parlindungan, yang pada bagian lampiran terdapat informasi penting tentang kontribusi etnis Tionghoa dalam penyebaran Islam abad ke-14 dan 15 di Nusantara yang bersumber dari Poortman. Poortman pada tahun 1928 dengan kapasitasnya sebagai Residen Kolonial Hindia Belanda pernah menggeledah dan menyita catatan-catatan penting terutama dari Kelenteng Sam Po Khong di Semarang (Jawa Tengah) dan Talang (Cirebon, Jawa Barat). Konon catatan yang disita dari Kelenteng Semarang saja sebanyak tiga bak pedati dan sebagian berusia di atas 400 tahun. Apa yang tertulis dalam Tuanku Rao rupanya menarik minat Prof. Dr. Slamet Muljana yang kemudian menindaklanjuti dengan upaya penelitian dan publikasi pada International Congress of Orientalists di Ann Arbor Amerika Serikat pada tahun 1967, kemudian penerbitan sebuah buku pada tahun 1968. Meski Muljana telah mempublikasikan pada tahun 1960-an, namun tulisan tentang kontribusi etnis Tionghoa pada penyebaran Islam di Nusantara abad XIII-XIV sempat mengalami ‘pembredelan’ dan dilarang untuk diterbitkan selama rezim Orde Baru sehingga masyarakat luas baru dapat menjumpainya kembali mulai tahun 2005, itupun hanya berupa ringkasannya saja.

Seperti yang dijelaskan oleh Poortman sendiri dalam laporannya, bahwa penggeledahan Klenteng Sam Po Khong berawal dari tugas rahasia yang diembannya untuk memastikan berita bahwa Raden Fatah, Sultan Demak pertama, adalah beretnis Tionghoa dengan nama Jin Bun. Secara kebetulan pada tahun 1928 terjadi instbilitas politik yang dimotori oleh orang komunis, yang kemudian dimanfaatkan Poortman sebagai dalih untuk melakukan penyitaan dokumen-dokumen di beberapa Klenteng, terutama Klenteng Sam Po Khong di Semarang dan Talang, setelah sebelumnya diketahui bahwa klenteng-klenteng tersebut terbiasa mencatat peristiwa-peristiwa penting yang berhubungan dengan klenteng.

* Laporan hasil penelitian Poortman tentang hal di atas saat ini disimpan di Gedung Negara Rijswijk, Netherland. Sedangkan tentang keberadaan dokumen asli yang disita dari Klenteng Sam Po Khong pada tahun 1928 tidak pernah disebutkan keberadaannya. Lebih detail dari Laporan Poortman tahun 1928.

Sebagai catatan tambahan, sebelum kedatangan Laksamana Cheng Ho tahun 1405, sebetulnya Agama Islam telah lama masuk ke Nusantara. Ayatrohaedi (2005) dalam ‘Sundakala : Cuplikan Sejarah Sunda Berdasarkan Naskah-naskah Panitia Wangsakerta Cirebon’ dan Ekadjati (2005) dalam ‘Polemik Naskah Pangeran Wangsakerta’ menginformasikan bahwa di daerah Gresik, Jawa Timur, terdapat makam Islam bernama Fatimah binti Maimun yang wafat pada tahun 1082, dan di Pasai telah berdiri kerajaan Islam dengan raja Sultan Muhammad Saleh pada tahun 1014 – 1040, dan catatan niagawan Arab muslim bernama Sulaiman yang menyebutkan bahwa Maharaja Zabag berkuasa di Sribuza (Sriwijaya) pada tahun 851, yang berarti 650 tahun sebelum kedatangan Laksamana Cheng Ho di Nusantara.

Tidak tersangkal bahwa salah satu dampak kolonialisme Belanda di Indonesia adalah berpindahnya catatan-catatan penting Nusantara yang banyak mengandung nilai sejarah ke Negeri Belanda, mulai dari prasasti hingga buku-buku yang berupa kertas daluang maupun lontar. Salah satu contoh saja, seperti yang dilaporkan Suganda (2006) dalam Kampung Naga Mempertahankan Tradisi, bahwa kolonial Belanda telah membawa catatan-catatan tentang karuhun (leluhur) Kampung Naga dan Pangeran Singaparna, terutama catatan yang ditulis pada sebuah lempeng logam kuningan yang hingga sekarang tak lagi terdengar kabar keberadaannya.

Maka wajar jika kemudian bangsa Belanda justru lebih mengenal Nusantara ketimbang penduduk aslinya, dan wajar pula jika hingga detik ini alur sejarah bangsa kita masih dalam ‘kendali’ mereka. Namun sisi positifnya, kita berterima kasih pula bahwasanya dokumen-dokumen penting yang bernilai sejarah tersebut berada di tangan yang lebih ahli dan disiplin dalam hal pengarsipan, sehingga selalu masih terbuka kesempatan bagi para ahli kita di masa kini atau masa depan untuk melakukan penelitian tentang bangsanya sendiri

About hockeywomen

Membangun toleransi dan damai adalah ibadah yang paling utama.
This entry was posted in Uncategorized and tagged , , , . Bookmark the permalink.

2 Responses to Cheng Ho dan Indonesia

  1. nice..
    artikel yang sangat bermanfaat.
    jangan lupa mampir di blog saya. ok

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s